|
Bagi perempuan pada umumnya, aktif dalam kegiatan social setelah berkeluarga bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Banyak rintangan yang membatasi gerak langkah perempuan untuk maju, mulai dari kegiatan domestik (baca: keluarga) maupun kegiatan untuk aktivitas produktif (baca: bekerja). Bukan hanya itu saja secara kultur maupun struktur, perempuan mendapatkan kesempatan dan peluang yang memang dibedakan. Kecenderungannya perempuan menerima kondisi yang mereka alami, walaupun terkadang tidak sesuai dengan hatinya. Perempuan usaha kecil di dusun Gelon kecamatan Kedunggalar awalnya juga mengalami dilema seperti itu. Ada pembatasan-pembatasan yang mereka alami, misalkan sulit untuk aktif di luar rumah dan harus minta ijin suami, harus dijemput oleh pihak panitia penyelenggara untuk bisa menyakinkan suami, dsb. Dan secara geografis wilayah Gelon berada ditengah-tengah hutan dan berada dipinggir sungai Bengawan Solo dan jarak tempuh dari dusunnya sampai di kecamatan berkisar antara 8 km. Kalau mau keluar desa mereka harus naik perahu dulu, kemudian berjalan kaki sekitar 4 km ditengah hutan baru bisa naik angkutan umum. Hal ini menyebabkan perempuan khususnya menjadi malas untuk keluar dari dusun. Disamping berat diongkos, juga terbatas angkutannya, karena melewati hutan dan sungai. ”Wah kalau sudah jam 4 harus sudah berada dibibir sungai , karena hutannya juga gelap dan sepi, apalagi perempuan kalau sendiri malam ditengah hutan ya... tidak aman” kata poniyati, salah satu mitra Asppuk. Namun mereka bersemangat unuk mengikuti pertemuan, belajar tentang berbagai hal dan berinteraksi dengan perempuan lain. Seiring dengan perjalanan waktu, semangat untuk berkembang itu semakin bertumbuh setelah berinteraksi dengan dunia luar.
Awalnya merasa minder, karena hanya berpendidikan SD tak lulus. Setelah lama bergaul dengan banyak kawan, keberaniannya meningkat untuk mengikuti aktivitas diluar rumah bahkan menyuarakan pemikirannya. Tidak hanya itu kepeduliannya untuk mendorong perempuan lain disekitarnya juga aktif dilakukan, seperti ungkapan Bu Parmi, ” Wah.. waktu pertemuan besuk bersamaan dengan posyandu, tetapi saya sudah mengkader orang lain jadi bisa berbagi peran”. Peduli terhadap perempuan lain, punya motivasi untuk berkembang dan peduli terhadap lingkungan, menjadi semboyan mereka. Percaya diri adalah modal utama bagi perempuan untuk bergerak, kepedulian terhadap perempuan serta kearifan lokal menjadi semangatnya dan tentunya kesejahteraan adalah cita-citanya. Potret kecil ini menggambarkan, bagaimana upaya perempuan untuk maju. Dengan susah payah mereka belajar dan mencoba untuk hidup yang lebih bermakna. Tentunya banyak cerita-cerita lain perempuan desa yang ingin berkembang tapi banyak halangan.(rk)
 |