|
Sudah jatuh tertimpa tangga, pepatah ini tepat untuk menggambarkan Perempuan Usaha Kecil (PUK) yang berjualan di Taman Jurug Solo. Kondisi PUK yang tergabung dalam Kelompok Bina Mandiri ini cukup mengkhawatirkan. Mereka tidak saja berjuang untuk bisa bertahan jualan di tempat wisata yang belum ada pengelolanya, tapi juga harus berhadap-hadapan dengan pemodal besar. Keadaan Taman Jurug yang juga dikenal sebagai Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) cukup memprihatinkan. Tidak adanya pengelola menyebabkan kebun binatang milik Pemerintah Kota Surakarta ini menjadi tidak terawat, tempatnya kotor, binatang tidak terurus dan tidak ada acara hiburan seperti di tempat wisata lainnya. Hal ini berimbas pada sepinya pengunjung.
Bagi PUK yang sudah puluhan tahun berdagang di Taman yang tepat berada di tepi Sungai Bengawan Solo, minimnya pengunjung berdampak bagi penghasilan mereka. “ Sehari ada barang yang laku saja sudah beruntung,” ungkap Bu Surip anggota Bina Mandiri yang berjualan souvenir. “ Kalau jualan mie ayam, laku 3 mangkok saja dalam satu hari sudah lumayan,” timpal Sri Mulyati, Ketua Kelompok Bina Mandiri yang punya warung mie ayam dan bakso di dalam Taman Jurug itu. Hanya hari-hari tertentu seperti hari libur dan hari besar, mereka bisa memperoleh penghasilan yang lumayan. Tapi masa panen itu pun sudah menjadi masa paceklik. Karena banyak produk dari pemodal besar yang masuk ke Taman Jurug . “Es teh dari produk ternama selalu berjualan di tempat ini. Bahkan tidak hanya satu tapi beberapa produk, terutama pas acara besar seperti Pekan Syawalan,” kata Sri Mulyati panjang lebar. “ Padahal es teh ini yang memberi keuntungan paling besar bila ada acara di Jurug,” lanjut Bu Sri panggilan akrab sang Ketua yang sudah 15 tahun berjualan di Taman Jurug. Maraknya produk ternama dengan kemasan dan cara promosi yang lebih menarik membuat produk PUK menjadi terpuruk. Pengunjung lebih berminat sama es teh dari produk ternama itu daripada es teh buatan PUK yang hanya di dalam gelas. “ Pemodal besar memang selalu melibas usaha kecil. Kami benar-benar merasakannya ,” ujar Utami salah satu anggota Bina Mandiri yang juga berjualan mie ayam dan bakso. Inilah persoalan yang dialami PUK Jurug. Mereka harus terus berjuang melawan produk dari pemodal besar, disamping tetap bertahan berjualan di tempat yang mulai ditinggalkan pengunjungnya. Kelompok Bina Mandiri sendiri adalah kelompok yang terdiri dari komunitas Perempuan Usaha Kecil yang berjualan di Taman Jurug. Anggotanya berjumlah 18 orang. Setiap tangaal 17, mereka berkumpul di salah satu Gazebo yang ada di taman itu untuk bertukar pendapat dan berbagi pengalaman . Tidak hanya masalah usaha saja yang dibicarakan, tapi kebijakan terkait Taman Jurug selalu menjadi topik bahasan tiap pertemuan. Berjejaring dengan teman PUK lainnya di dalam satu wadah Jaringan Perempuan Usaha Kecil ( Jarpuk) memotivasi mereka untuk tidak gentar berhadap-hadapan dengan pemodal besar. Caranya meningkatkan kualitas produk yang dijual. Disamping itu kekuatan kelompok menjadi modal untuk memperoleh posisi tawar dalam pengambilan kebijakan di Taman Jurug ini. “Kami akan memberi masukan terkait Taman Jurug kepada pengambil kebijakan, karena taman ini tempat penghidupan dan pengharapan kami,” tegas Utami.( ren)
 |